Telinga Kita Bukan Superhero: Bahaya Pendengaran Turun Akibat Earphone & Volume Tinggi di Usia Muda
August 17, 2025
Healthcare System
Halo teman-teman!
Saya Dr. Andika Prasetya, dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan – atau yang biasa dikenal dengan dokter THT. Hari ini, saya ingin ngobrol santai tapi penting banget soal satu kebiasaan yang makin hari makin umum: pakai earphone terus-menerus dengan volume tinggi.
Sebagai dokter yang sehari-hari menangani pasien dengan masalah pendengaran, saya makin sering ketemu anak muda usia belasan sampai dua puluhan yang mengalami gejala awal gangguan pendengaran. Padahal, biasanya gangguan ini terjadi di usia tua!
Kenapa bisa begitu? Yuk kita bahas pelan-pelan.
👂 Telinga Kita Punya Batasan
Telinga adalah organ yang luar biasa. Di dalamnya ada struktur kecil bernama koklea yang berisi ribuan sel rambut halus (hair cells). Sel inilah yang mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak agar kita bisa "mendengar".
Masalahnya, sel-sel rambut ini sangat sensitif dan nggak bisa tumbuh kembali kalau rusak. Sekali rusak karena paparan suara keras, sel itu mati selamanya. Kalau terlalu banyak yang rusak? Ya, kemampuan pendengaran kita pun menurun.
📉 Gangguan Pendengaran di Usia Muda – Fakta yang Mengerikan
Menurut data WHO, lebih dari 1 miliar anak muda di seluruh dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran karena paparan suara keras dari perangkat audio pribadi. Dan sebagian besar dari mereka... ya, seperti kita: pakai earphone atau headphone setiap hari.
Beberapa tanda awal gangguan pendengaran antara lain:
[li indent=0 align=left]Sering minta orang mengulang ucapan[li indent=0 align=left]Sulit mendengar di tempat ramai[li indent=0 align=left]Telinga berdenging (tinnitus)[li indent=0 align=left]Suara terdengar “jauh” atau tidak jelasKalau kamu merasa salah satunya sering terjadi... waspada ya. Mungkin telinga kamu sudah "protes".
🔊 Seberapa Keras Itu Terlalu Keras?
Volume maksimal di smartphone atau perangkat audio biasanya bisa mencapai 100 – 110 desibel (dB). Sebagai gambaran:
[li indent=0 align=left]Percakapan biasa: 60 dB[li indent=0 align=left]Lalu lintas kota: 80 – 85 dB[li indent=0 align=left]Konser musik: 100 – 120 dB[li indent=0 align=left]Volume penuh earphone: sekitar 105 dBWHO menyarankan kita tidak mendengarkan lebih dari 60% volume maksimal, dan tidak lebih dari 60 menit sehari. Ini dikenal sebagai aturan 60/60.
💥 Bahaya yang Sering Diabaikan
Saya paham, banyak yang merasa "ah, saya masih muda, telinga saya masih kuat kok". Tapi seperti saya bilang tadi, kerusakan pendengaran tidak terasa langsung. Ini bukan seperti jatuh dan langsung luka. Kerusakan terjadi perlahan, diam-diam... sampai suatu hari kamu sadar, kok suara jadi samar?
Dan ingat, gangguan pendengaran bukan hanya soal tidak bisa dengar. Ini juga memengaruhi:
[li indent=0 align=left]Kemampuan komunikasi[li indent=0 align=left]Kualitas belajar dan kerja[li indent=0 align=left]Kesehatan mental (sering kesepian, depresi)[li indent=0 align=left]Rasa percaya diriSaya pernah menangani mahasiswa yang merasa stres berat karena tidak bisa mengikuti diskusi kelas akibat gangguan pendengaran. Padahal usianya baru 22 tahun.
✅ Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Tenang, ini bukan berarti kamu harus membuang earphone-mu. Tapi kita bisa lebih bijak dalam menggunakannya. Berikut tips dari saya:
[li indent=0 align=left]Gunakan aturan 60/60: Maksimal 60% volume, maksimal 60 menit sekali dengar.[li indent=0 align=left]Pilih headphone peredam bising (noise cancelling): Supaya kamu tidak perlu menaikkan volume karena gangguan dari luar.[li indent=0 align=left]Istirahatkan telinga: Beri jeda setelah 1 jam mendengar. Diam sejenak tanpa suara.[li indent=0 align=left]Gunakan speaker jika memungkinkan: Saat di rumah, lebih baik dengar lewat speaker daripada earphone langsung ke telinga.[li indent=0 align=left]Cek pendengaran secara rutin, apalagi jika kamu mulai merasa ada perubahan dalam mendengar.❤️ Telinga Juga Butuh Cinta
Sebagai dokter, saya ingin mengingatkan: jaga telingamu seperti kamu menjaga jantungmu. Jangan tunggu sampai suara menghilang untuk mulai peduli.
Pernah saya bercanda dengan pasien:
"Kalau jari kaki terluka, kita masih bisa jalan. Tapi kalau telinga rusak, apa kamu mau belajar bahasa isyarat sekarang juga?"
Mereka tertawa, tapi juga jadi berpikir.
Jadi mulai hari ini, yuk lebih sayang sama telinga sendiri. Dengarkan musik? Boleh. Tonton podcast? Silakan. Tapi dengan bijak. Karena di usia muda, kamu masih punya masa depan panjang – dan akan lebih indah jika dilalui dengan pendengaran yang sehat.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu punya pertanyaan atau merasa ada gejala pendengaran yang mencurigakan, jangan ragu datang berkonsultasi. Saya, Dr. Andika, siap mendengarkan kamu – secara harfiah dan hati. 😊